Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024

Oktober dan detik seterusnya

Setengah cangkir kopi masih tersaji sang perempuan menjadi memori     Di dada laki-laki yang merindukan kasihnya dari pagi yang terasa manis hingga hampir pagi menjadi pahit Jika ada yang bertanya apa arti Oktober suatu hal gaib diantara ketakutan dan hal gamang yang mengelegi menyamar menjadi udara mencuci pandang bahwa nyatanya tiada   “apa aku salah jika menganggapmu ada?”   Kesekian cangkir berganti kopi berganti pagi berganti bibir berganti kasih Hingga Oktober meninggalkanmu yas23-

akulirik

  Aku ingin menjadi akulirik dalam puisi-puisi yang akan kau baca di sela gaduh asmaramu agar aku bisa membuatmu damai dan diam Menjelma kata Yang bisa menamparmu Tanpa rasa berdosa yas23

(untitled)

Hari-hari menjilat keringat diri Menyetubuhi waktu yang nikmatnya dirasa sendiri   Beberapa plang kereta dilewati Serta buku-buku yang tidak selesai dibaca kawan dan lawan saling berganti memberikan judul Setiap kisah yang aku setubuhi sendiri   Terkadang duduk memucat dan ratusan ayat yang kubaca serta air mata adalah titik pasrah dariku yang merindukan kemustahilan   juga pertanyaan Mengapa kisahku tidak di acc semesta?   yas23

chance-

Kamu adalah celah kesempatan dari kartu-kartu menelungkup di bawah waktu aku sempat berpuisi menjadikanmu indah berbalut ironi sempat aku melinu dijilat rayu yang malu dan yang paling menarik aku sempat memilikimu yas2023-

satu purnama

Aku sekarang berani mengecam bahwa kamu mungkin adalah yang terbaik dan terburuk untukku. Bisa dibilang singgah, sekadar mengulur kecewa, dan berujung gundah. Hanya sebulan, namun lukanya perih sangat tidak karuan. Hanya sebulan, namun luka dan rindunya bisa berbulan-bulan, dan bahkan lewat satu tahun, setelah akhirnya aku bisa menemuinya langsung.  Fiersa Besari was right: “kau yang mengajari arti patah hati”.   Di setiap hal-hal yang patah emang selalu ada pelajaran dibaliknya; ada hikmahnya. Tapi kamu yang paling banyak mengajarkan aku hal-hal yang sebelumnya belum pernah aku rasakan, yang belum aku tahu. Di usia yang baru memasuki kepala dua ini, aku merasakan bagaimana tidak direstui orang tua dari kasih yang aku cintai karena status sosial kita berdua. Dari menerima keadaan, berperang dengan diri sendiri, berkali-kali  denial bahwa "kamu ini jahat", hingga aku belajar buat mencintai dalam keikhlasan itu ngga semudah apa yang dikata orang. Terlebih keadaan aku; even...

Tapi emang bisa?

Kepergianmu adalah kesempatan untuk membuatku menjadi lebih tenang; tidak lagi memikirkan hal-hal tentangmu dan teks-teks perhatian  yang sudah bukan menjadi bagianku untukku sampaikan.  “mari sembuh tanpa bercerita”. Tapi emang bisa?  Pendengar-pendengar keluh dan sedihmu adalah saksi dimana kamu menuju pulih, disitu kamu tidak bisa berdalih bahwa kamu ingin bermalih hati.  Setelah ketiaadanmu benar-benar lengang, aku menyadari bahwa aku perlahan bisa mengikhlaskanmu dengan tenang. Meski terkadang, di sela kerjaanku masih sempat saja bayangmu singgah di otakku.  Hadir dan pergimu semoga menjadi ladang ikhlas untuk kehidupanku. Entah keberapapuluh kali aku berucap, terima kasih pernah menjadi bagianku. 

SEPERTI AIR MATA DI LAUT MATI

          Kau tahu tidak, seberapa tabah laut mati mengasinkan dirinya? Tanpa ekosistem normal disekitarnya, tanpa apa-apa, apa adanya. Hanya air dan kandungan garam didalamnya yang bertahan untuk menjadi dirinya sendiri. Meski begitu, ia berhasil membuat makhluk bumi senang akan dirinya. Laut mati ditakdirkan tidak akan pernah bisa menenggelamkan apapun. Semua sesuatu yang ia peluk, ia akan biarkan mengapung di lebah dadanya. Terlebih, ia selalu memuja penciptanya karena menjadi titik terendah bumi yang berada di daratan. Yea, ternyata sebuah danau, tapi tabahnya ia kepada penciptanya, menjadikan ia dipanggil “laut” oleh elemen-elemen alam yang mengindahkannya. Meski aku menangis sebanyak mungkin, asinnya air mataku akan terasa sama ketika bermuara di laut mati. Kau tidak akan bisa membedakan mana air mataku dan mana air laut. Apa-apa yang menjadi kesedihanku kepada dunia; kepada kamu, itu tidak akan merubah takdir – bahwa kita tidak bisa bersama. Se...