Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

aku (tidak) mencarimu di orang lain

Setelah kamu pergi, kamu benar hilang dan menyamar, menjelma menjadi lain-lain. Di ponsel, kau masih menjadi salah satu nama di daftar kontak, dan foto-foto yang ada di galeri tersembunyi. Di instagram dan lainnya, kamu menjelma menjadi mutual. Di catatan, kamu berupa kata. Di web-web internet, kamu berupa frasa penyangkalan. Di kehidupan nyata, tiadanya kamu menyamar menjadi barang di orang lain. Ia memakai topi yang sama percis sepertimu, sepatu NB yang sama sepertimu, bahkan rokok yang kau suka. Buku-buku yang suka kau baca dan playlist yang sering kau dengar, mungkin orang lain juga bisa sama sepertimu, atau kamu yang menyamar menjadi orang lain? Ketika kau menyamar sebagai elemen mati, kau menjelma menjadi kedai thrifting, didalamnya ada jaket-jaket serta sweater yang nyaman di badanmu. Selain itu, kau menjelma menjadi secangkir americano, satu cup es kopi susu, atau satu gelas coklat dingin di warmindo. Bahkan, kamu bisa menjelma menjadi gantungan dari kumpulan kunci-kunci ko...

Tubuh yang pesakitan ini masih saja mengingatmu: 4 Puisi Favorit Yasminsea dalam Buku “Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” Adimas Immanuel

“Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” merupakan salah satu buku kumpulan puisi karya Adimas Immanuel yang diterbitkan pertamakali tahun 2019. Buku ini terdiri dari 71 puisi yang ditulis oleh beliau. Terdapat empat puisi favorit saya dari buku “Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” karena merasa relate with my life dari larik-lariknya yang semu romantic. Maka dari itu, sebagian puisi dalam buku ini berisi tentang bagaimana rasa cinta diungkapkan dan rasa sebuah kehilangan. Selamat membaca! 1.     Dalam Demam Ini bukan sajak sehat, tak ada aroma kesembuhan hanya ingus, hanya cinta yang diberangus influenza.   Tak ada yang secakap gigil tubuh dalam menyalin larik -larik kelemahan ke dalam seuntai stanza.   Beberapa butir pil berjatuhan seperti penyesalan atas tindakan-tindakan kerdil, perih parah igauan.   Dalam gentar sekujur badan, kening di jamah cemas ranjang yang tuli, ajal seperti buru-buru berkemas.   Tubuh yang pesakitan ini ma...

Kumpulan Puisi “Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api” Karya Moon Changgil MENELISIK LUKA DARI TUBUH KOREA - yasminsea

  Bayangan panjang ilalang yang menegakkan tulang punggungnya ke arah matahari yang muncul seperti harapan bergoyang lalu berbaring sementara rerumputan mengangkat kepalanya dengan gelisah dan air sungai pun menyimpan duka di hati terdalam (hlm. 53)                Sebait sajak tersebut merupakan kutipan dari salah satu puisi yang berjudul “Kepada Dia” dari buku kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil terjemahan Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah. Dari sebait puisi diatas mungkin pembaca sudah dapat merasakan harapan yang menyakitkan? Apabila belum terasa, dalam kesempatan ini saya akan menelisik lebih lanjut tentang salah satu karya sastra korea kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil terjemahan Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah.             Sebelum menganalisis karyanya, baiknya terlebih dahulu kita berken...