Aku sekarang berani mengecam bahwa kamu mungkin adalah yang terbaik dan terburuk untukku. Bisa dibilang singgah, sekadar mengulur kecewa, dan berujung gundah. Hanya sebulan, namun lukanya perih sangat tidak karuan. Hanya sebulan, namun luka dan rindunya bisa berbulan-bulan, dan bahkan lewat satu tahun, setelah akhirnya aku bisa menemuinya langsung.
Fiersa Besari was right: “kau yang mengajari arti patah hati”.
Di setiap hal-hal yang patah emang selalu ada pelajaran dibaliknya; ada hikmahnya. Tapi kamu yang paling banyak mengajarkan aku hal-hal yang sebelumnya belum pernah aku rasakan, yang belum aku tahu. Di usia yang baru memasuki kepala dua ini, aku merasakan bagaimana tidak direstui orang tua dari kasih yang aku cintai karena status sosial kita berdua.
Dari menerima keadaan, berperang dengan diri sendiri, berkali-kali denial bahwa "kamu ini jahat", hingga aku belajar buat mencintai dalam keikhlasan itu ngga semudah apa yang dikata orang. Terlebih keadaan aku; even teman saja tidak banyak. Dirundung sepi, sedih, dan perih terus setiap hari.
Maaf-maaf darimu sebenarnya tidak cukup untuk menyetarakan lukanya. Apa daya, aku tidak mau lagi bohong, berharap lagi kamu memelukku erat, sekadar tanda bahwa kita pernah ada. Terima kasih sudah menerimaku dan membalas perasaanku. Aku tau, kamu juga menyayangiku. dalam hati aku mengutuk kamu agar terus merasa bersalah. Tapi aku urung, karena, ya aku sayang sama kamu! Aku ingin melihat, seberapa jauh waktu berjalan, seberapa jauh pula aku mencintaimu dalam keikhlasan. biar manapun, perasaan ini adalah cinta yang harus pudar. Apa yang membuatmu bahagia, termasuk masa lalumu, aku akan ikut merasakan bahagiamu.

Komentar
Posting Komentar