Setelah kamu pergi, kamu benar hilang dan menyamar, menjelma menjadi lain-lain. Di ponsel, kau masih menjadi salah satu nama di daftar kontak, dan foto-foto yang ada di galeri tersembunyi. Di instagram dan lainnya, kamu menjelma menjadi mutual. Di catatan, kamu berupa kata. Di web-web internet, kamu berupa frasa penyangkalan.
Di kehidupan nyata, tiadanya kamu menyamar menjadi
barang di orang lain. Ia memakai topi yang sama percis sepertimu, sepatu NB
yang sama sepertimu, bahkan rokok yang kau suka. Buku-buku yang suka kau baca
dan playlist yang sering kau dengar, mungkin orang lain juga bisa sama
sepertimu, atau kamu yang menyamar menjadi orang lain?
Ketika kau menyamar sebagai elemen mati, kau menjelma
menjadi kedai thrifting, didalamnya ada jaket-jaket serta sweater yang nyaman
di badanmu. Selain itu, kau menjelma menjadi secangkir americano, satu cup es
kopi susu, atau satu gelas coklat dingin di warmindo. Bahkan, kamu bisa
menjelma menjadi gantungan dari kumpulan kunci-kunci kosan dan gembok patah yang
menempel di pinggang penjaga kosan.
Satu hal, kamu tidak akan pernah bisa menyamar menjadi
suara di orang lain. Tutur bahasamu, caramu merespons, berbicara, meminta maaf,
dan suaramu ketika berbisik. Sepanjang abad, tidak akan pernah ada yang bisa
sama sepertimu. Abadilah kau dalam kata, bersemayamlah kau diantara makna.

Komentar
Posting Komentar