Langsung ke konten utama

Platylist Heartbreak Edition: 10 Lagu Versi Yasmin Galau 2023 - 2024 (Bukan Sekadar Playlist) PART 1

Halo, apa kabar sad people??? wkwkwk. Semoga lekas berbahagia lahir batin🌹.

 

Kenapa yaa, kalo lagi bersedih hati musik yang mellow semi galau tu kek mendukung banget kalo diputar? Mau lagu yang lagi viral atau lagu jadul favorit kalo lagi galau tetep enak diputar, dimanapun, kapanpun. Apalagi kalo masih panas tuh hatinya, denger lagu yang relate dikit, bapeerr. Tapi ya gais, ketika kalian (mau cewe atau cowo) lagi pengen nangis karena ada something yang bikin marah, sedih hati, nangis aja. Keluarin emosi amarahnya, jangan dipendam, jangan gengsi. Jaga mental tetep waras deh minimal 😓

 

Kali ini, gue mau berbagi playlist versi gue nih. Di masa galau tersebut; sekitar akhir tahun 2023, gue pernah berselera sama genre punk rock dan indie pop gitu. Kek pengen dengerin lagu itu-itu terus. Seperti The Jansen, rumahsakit, The Adams, Morfem, Perunggu, Good Morning Everyone, dll. Pokoknya kek skena total dah (anjaay). The Jansen adalah band indie skena pertama yang bikin aku tertarik, dan lagu The Jansen yang bikin aku suka pertam kali adalah "Langit Tak Seharusnya Biru". Gue juga pernah gabut bikin animasi lirik(?) lagu "berkelana duang dan mimpi". Nih klo mo liat hahahah:

 


Gue bakal sisipin link playlist spotify laguku versi skena ini wkwk; dan boleh save ya kalo ngerasa satu selera. Jujur, gue kangen ke masa diriku yang masih dengerin playlist itu (karena sekarang udh ga pernah lagi). Gue seneng bisa "mengenal" lagu-lagu bergenre punk - indie semacamnya - even aku bukan fans sejatinya/masuk ke fansclub-nya, seiring waktu berjalan, nama mereka suka ada di festival musik, dan aku bangga bisa tau band dan lagu-lagu mereka di saat orang lain berkata "band tidak terkenal". 

 Yaskenalpot - Yeversea Spotify

 

        Nah, masuk awal tahun 2024, masa dimana gue menyelesaikan closure dan relapse, playlist yang aku sering dengerin pindah genre jadi hipdut. Yap, lagu-lagunya NDX AKA, salah satunya wkwkwk. Denger lagu-lagu jawa berkedok nambah kosakata bahasa Jawa agar selalu berkaitan sama dia adalah hal yang konyol. Tapi, disamping itu, lagu-lagu NDX emang asik didengerin sih hihi. Dan lagu hits saat itu adalah "Nemen - NDX AKA"; aku kaget ndelok statusmu tangan gandengan ... 

        Catatan ya, ini bukan playlist galau biasa yang isinya random songs atau sekadar ngikut tren di masa itu saja. Tapi, rentang tahun 2023 - 2024 merupakan masa patah hati gue yang sangat berat; 2 tahun lamanya gue buat mendamaikan diri sendiri sama masa lalu gue yang ditolak ibunya tu, dll (yaa begitulah hehe). Jadi, playlist ini intinya lagu-lagu yang sering gue putar di rentang tahun tersebut. Playlist ini tidak hanya gue share judul dan penyanyinya saja, tapi gue bakal tulis lirik yang paling ngena versi gue di lagu tersebut. Selain itu, gue bakal drop link utubenya buat yg penasaran sama lagunya. 

 

Semoga ga ogah baca gusy, cekidott.


1. Hitam Putih - Fourtwenty

 


        Lagu pertama adalah "Hitam Putih" dari Fourtwenty. Ini lagu dari album Lelaku Tahun 2015. Dann, gue relate di tahun 2023 HAHAHHAA, udah kek merasa paling sakit hati sedunia 😹. Sumpah dah, di tahun 2025 ini gue belom pernah lagi muter ni lagu. Masih terngiang-ngiang juga intro lagu ini gimana. Lirik pertamanya aja udah begini:

"Bagai langit dan bumi..." 


Udah ketebak gak, gue di masa itu galau kenapa? wkwkwk. Ini lirik yang paling ngena sih:

Belajar melepaskan dirinya

Walau setengahku bersamanya

Ku yakin kita 'kan terbiasa

Walau inti jiwa tak terima

       Sumpah, lirik ini tuh kayak representasi pasrah yang terpaksa. Rasanya kayak… lo masih cinta, tapi gak bisa lagi punya. Setengah lo masih nempel, tapi harus ngelepasin karena keadaan. Sakitnya diem-diem, gak bisa protes. Karena apa? Ya karena gue sund* ...

       Lagu fourtwenty yang lagi viral di tahun 2025 sekarang tuh adalah Mangu dari album Nalar tahun 2023.

“Gilaa … Tak masuk logiiikaaa…”

 

Siapa nih yg relate sama lagu ini?? hehe. Kalo aku, engga wkwk.

 Hitam Putih - Fourtwenty

 

2. Melawan Hati - Fiersa Besari ft Prinsa Mandagie

 


        Lagu kedua yang sering banget gue puter di tahun 2023 adalah “Melawan Hati”. Ini kolaborasi Fiersa Besari sama Prinsa Mandagie, dan menurut gue… lebih nyelekit daripada “Waktu yang Salah” ðŸ˜­

        Gak tau kenapa, mungkin karena liriknya tuh lebih pasrah, lebih mentok, dan aransemen musiknya pas banget buat nemenin momen heartbreak parah.

       SEMUA LIRIKNYA RELATE COY. Bener-bener menggambarkan suasana dan keadaan hati gue saat itu wkwkwk.

        Gue dengerin lagu ini pas lagi di titik lemah-lemahnya, yang nangis bisa sambil diem doang, cuma merem dan pasrah. Musiknya mellow tapi gak lebay, jadi cocok banget buat jadi soundtrack galau middle-of-the-night edition.

Lirik yang paling ngena buat gue:

Mengapa bayangmu terus ada setiap ku memejamkan mata
Semua kenanganmu membuat diriku tak bisa berpikir jernih
Tolong keluar dari kepala, aku tak mau menjadi gila
Berpisah kita sakit, namun bersama kita lebih terluka

 Melawan Hati - Fiersa Besari x Prinsa M.

 


3. Jakarta Hari Ini - For Revenge

 


        JAKARTA HARI INI DARI FOR REVENGE MASUK DI PLAYLISTT GUEE DONGGG!!

        Jakarta Hari Ini adalah bagian dari album Perayaan Patah Hati Babak 1 dari For Revenge. Selain sempat jadi lagu viral pada masa itu, lagu ini berhasil bikin sad era gue lebih sempurna, meski ga terlalu relate dengan makna yang tersirat di dalam lagu ini. Siapa yang gatau sih sama reff dari lagu ini? Ini bagian relate gue:

Akhirnya ku mengalah

Dan biarkan kau menyala

Meski harus kulewati pedih yang tiada akhirnya

Akhirnya ku mengalah

Merelakanmu dengannya

Dan rayakanlah hari-hari terindahmu di sana


*(beberapa bulan, setelah aku menyusul ke tempat domisili dia untuk memberi closure (2024), dia memberi pesan ke gue dan memberitahu bahwa ia sudah menemukan perempuan baru yang lebih pas katanya, dan sekarang mereka sudah bertunangan)

        Selain itu, salah satu lirik yang menarik di lagu ini adalah bagian interlude-nya, berikut liriknya: 

(But perhaps you hate a thing and it's good for you)

(And perhaps you love a thing and it's bad for you)

        Lirik tersebut adalah hal kecil yang membuat mata gue terbuka. Lirik tersebut merupakan terjemahan Bahasa Inggris dari ayat Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 216. Setiap For Revenge manggung dan bawain lagu ini, tulisan "2:216" menjadi visual display For Revenge.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).

 Jakarta Hari Ini - For Revenge

 

4. Anything You Want - Reality Club

 

        Of course. This song. 😪

        Dari nada pertama, gue langsung tahu: lagu ini bakal jadi backsound hati gue yang baru pecah waktu itu. Rilis tahun 2023 dari album Reality Club Presents..., “Anything You Want” punya aura yang... gimana ya... kayak pelan-pelan masuk ke hati, terus ngga mau keluar.

        Yang gue suka, lagu ini nggak terlalu dramatis atau mewek-mewek. Tapi justru itu yang bikin nyesek. Musiknya butterfly era-slowly, kayak fase di mana lo masih ngelamun sendiri, pura-pura kuat, padahal baru aja kehilangan. Bahkan sekarang, ketika udah nggak se-galau itu, lagu ini masih ngena. Repeatable banget — infinite time, literally.

Lirik favorit gue tentu aja bagian reff-nya:

The same song on repeat
"You can call me anything you want"
It's fine by me
Number two out of three
He says that it's his favorite
And I can't disagree

        Kalimat “You can call me anything you want” itu... ngena banget buat yang pernah ngerasa jadi opsi, bukan prioritas. Kayak, yaudah deh, asal masih bisa bareng, gue terima-terima aja. Sedih, tapi jujur.

 Anything You Want - Reality Club


5. Disenchanted - MCR



        Di tahun 2023, lagu ini viral di sosmed. Of course lagu ini masuk TOP FIVE SAD SONGS gue — gimana nggak? Ini kayak soundtrack resmi patah hati paling megah.

      “Disenchanted” rilis tahun 2006 dari album The Black Parade, album yang sudah legendaris itu. Genre hard rock-nya tuh bukan cuma bising-bising doang, tapi kayak suara isi kepala yang teriak waktu lagi hancur-hancurnya. Pas lagi patah hati tahun lalu, rasanya gue kayak ngebawa semua liriknya kemana-mana. Sakitnya nyampe ke tulang.

      Yang bikin makin ngenes, di masa yang sama gue juga sering muter “Cancer” — apalagi pas bagian, “Cause the hardest part of this is leaving yooouuu…”  MEWEKKKK.

If I'm so wrong (so wrong, so wrong)
How can you listen all night long? (night long, night long)
Now will it matter after I'm gone?
Because you never learn a goddamn thing

Lirik ini kayak dialog terakhir yang nggak pernah keucap ke orangnya.

Kalau gue salah terus, kenapa lo dengerin gue semalaman? Setelah gue pergi, apa masih ada artinya? 

Keras, marah, tapi juga pasrah. Sakitnya MCR tuh selalu elegan —  bikin patah hati terdengar megah kayak konser stadion, bukan cuma nangis di kosan doang.

 Disenchanted.


6. End of Beginning - Djo


        Lagu ini nggak bisa gue bahas terlalu banyak. Bukan karena nggak penting — justru karena terlalu penting. Terlalu personal. Terlalu “gue”. HAHAHAHAHA. I’m too lazy to discuss this song.

       Dirilis tahun 2022 dari album DECIDE, lagu ini meledak jadi audio viral di sosmed tahun 2023. Tapi buat gue, ini bukan cuma viral, ini nyangkut. Nancep.
Lagu ini punya semua elemen yang seharusnya bikin hati tenang: musiknya dreamy, melodinya lembut tapi manis, dan suara Joe Keery yang bikin candu. Tapi... sialnya, itu justru yang bikin traumatis.

        Karena lagu ini bukan lagu. Melainkan semacam portal kenangan dari masa lalu. Begitu nada awalnya muncul, gue serasa langsung ada di kereta. Duduk sendiri, pakai hoodie, dengan sisa senyum yang masih nempel di mata setelah pertemuan yang gue kira berarti. Pemandangan di luar adalah sawah, sungai, kebun. Semua berlalu — cepat, datar, dan gak bisa diulang. Sampai akhirnya kereta ngelewatin Tugu Pelajar Pejuang di Bandung... dan lagu ini berhenti. Begitu aja.

Gue drop liriknya:

Just one more tear to cry
One teardrop from my eye
You better save it for
The middle of the night
When things aren't black and white
Enter, Troubadour
"Remember twenty-four?"

And when I'm back in Chicago, I feel it
Another version of me, I was in it
I wave goodbye to the end of beginning

This song has started now
And you're just finding out
Now isn't that a laugh?
A major sacrifice
But clueless at the time
Enter, Caroline
"Just trust me, you'll be fine"

And when I'm back in Chicago, I feel it
Another version of me, I was in it
I wave goodbye to the end of beginning
(Goodbye, goodbye, goodbye, goodbye)

        Setiap kata di lagu ini kayak kode rahasia yang cuma bisa dipahami sama versi gue yang waktu itu. Versi yang masih percaya. Versi yang masih berharap. Versi yang masih belum tahu bahwa semua ini adalah akhir dari awal yang seharusnya nggak pernah dimulai.

        Kadang lagu ini kedengeran di tempat umum, dan gue harus pura-pura biasa aja padahal dalam kepala udah chaos. Earworm? Banget. Bahkan sampai trigger epilepsi gue waktu itu — dan mungkin, trauma yang diem-diem merembet juga ke fisik.

        Makanya, “End of Beginning” bukan sekadar lagu. Ia adalah alarm. Pengingat bahwa pernah ada satu masa yang indah — tapi salah. Dan sialnya, rasa sakitnya masih terasa, mungkin sampai masa depan.

 End if Beginning (Slowed); lebih enak yg slowed tau

 

7. Abadi - Dendi Nata dan Hendra Kumbara (Indo Version)

 

           Kadang, lagu yang paling bikin nyesek bukan yang galau mewek atau teriak-teriak. Tapi yang kalem. Yang sok bijak. Yang bilang “udah, relain aja” — padahal lo sendiri masih nyimpen fotonya, suaranya, videonya.

        Abadi adalah salah satu lagu itu. Dirilis dalam dua versi (Jawa & Indonesia), lagu ini sempat viral sebagai audio di 2023. Tapi versi Indonesianya yang paling gue ulang-ulang. Karena rasanya... kayak gue banget. Sok merelakan. Padahal? Belum ikhlas. Jauh.

          Gue bahkan pernah bikin video liriknya yang gue post di story instagram dan video itu sempat direpost Dendi Nata langsung di Instagram .
Lucu, ya? Ini adalah salah satu kenangan yang jadi viral, yang paling pengen gue lupain.

Lirik ini selalu bikin gue diem:

Biarpun kita hilang
Tak lagi bersama
Tak lagi bercinta
Berdua

Masih saja kupandang
Wajahnya yang hilang
Tak akan terganti
Dia abadi

        Dan lagu ini, sialnya, terlalu pelan buat gue tolak. Dia nggak nyuruh nangis. Tapi justru itu yang bikin akhirnya... gue nangis juga.

 Abadi (Indo Ver.)

8. Interaksi - Tulus

"Manalah ku tahu datang hari ini..."

        WAW. Baru baris pertama aja, rasanya kayak ditampar lembut. Tahun 2023 tuh emang masa-masa di mana lagu-lagu tiba-tiba ngerti posisi gue — apalagi lagu ini. Dirilis 2022 dari album Manusia, Interaksi mulai viral di 2023, barengan sama fase di mana hati gue kayak baru kecelakaan kecil... tapi terus nyeret sampe jauh.

        Lagu ini bukan slow banget, tapi justru itu yang bikin emosi di dalamnya kayak ngebul pelan-pelan. Kayak ketemu seseorang yang diharap bisa jadi rumah, tapi malah cuma numpang lewat, terus nggak siap sama kepergiannya, karena lo bahkan belum sadar dia udah masuk.

Ini lirik favorit guee:

Jika dia memang bisa untukku

Sini, dekat dan dekatlah

Dan jika dia memang bukan untukku

Tolong, reda dan redalah

 Interaksi - Tulus

 

9.  I love You So (Acoustic) - The Walters

        Lagu I Love You So dari The Walters ini dirilis tahun 2014 dari album Songs for Dads. Lagu ini mungkin bukan yang paling sering gue ulang, tapi waktu itu, dia datang di saat yang pas (anjay). Alias sound lagu ini tuh cukup viral di tiktok pada masa itu. Mungkin, lagu ini sering gue puter pas lagi masa nyoba buat mengikhlaskan dia kali ya wkwk. Gue inget ada rasa lega dan relate. Kadang, gak butuh lagu buat nambahin air mata—kita cuma butuh lagu yang nemenin kita diem. Dan I Love You So (Acoustic), ngelakuin itu.

Simple, lirik lagu yang paling kusuka yaituu: 

But I love you so (please, let me go)

I love you so (please, let me go) …

 i love u sooooo

 

10. Love of My Life – Queen


        Ada lagu yang datang bukan karena nyari, tapi karena hidup suka iseng ngasih soundtrack di waktu yang tepat. Love of My Life itu salah satunya.

        Awalnya, lagu ini bukan punya gue. Tapi lama-lama, dia nempel terlalu dalam—jadi bagian dari fase yang sekarang rasanya berat banget buat dibuka lagi. Bukan karena lagunya buruk. Justru karena dia terlalu kuat buat didengerin tanpa rasa nyeri kecil yang ikut muncul.

Lirik favorit gue:

Bring it back, bring it back

Don’t take it away from me

Because you don’t know what it means to me...

        Itu bukan cuma lirik. Itu kayak suara hati yang udah gak punya tenaga buat nahan. Dan di masa itu... gue ngerti banget artinya minta sesuatu yang gak akan balik, tapi pengen masih tetep dimaknai apa yang telah ku lakukan silam.

        Sekarang, lagu ini bukan bagian dari playlist gue lagi; udah gapernah gue denger lagi. Bukan karena udah gak suka, tapi karena ada hal-hal yang terlalu dalam untuk disentuh ulang. Kadang, satu melodi aja bisa bawa balik rasa, tempat, bahkan napas terakhir dari versi diri yang udah gue tinggalin jauh-jauh.

           Lagu ini tetap indah. Tapi untuk sekarang, gue biarin dia lewat aja — pelan, dan dari kejauhan.

 love of my live_queeeeen


        Ya itulah sepuluh lagu-lagu pas gue galau yang amat banget ngasih makna hidup dan batin. Mungkin terasa b aja kali ya buat kalian, atau mungkin beberapa dari kalian juga merasa "relate" sama salah satu lagunya, atau bahkan bikin hati teriak "INII LAGU GUEE BANGEETTT NO COMMENT!". See you di part 2 nya. 

Semoga selalu berbahagia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asmara Nol

pict from pinterest/joe broadbent Berapa lama pahit yang kau giling Aromanya menepi menyisakan puing Laju jalur yang kau jalani menghasilkan tanda tanya setiap hari tiap hati keringat merekah melebur, membaur dada membanjiri kening membuat hening pikiran dan bukti kasihmu Berapa lama hambar yang kau rasa Setengah hatimu hanya ada sisa Sepenggal puisi di dinding kamarmu titik akhir dari tanda tanya itu Seperti asmara Berguling-guling Di hati asmoro (2024)

aku (tidak) mencarimu di orang lain

Setelah kamu pergi, kamu benar hilang dan menyamar, menjelma menjadi lain-lain. Di ponsel, kau masih menjadi salah satu nama di daftar kontak, dan foto-foto yang ada di galeri tersembunyi. Di instagram dan lainnya, kamu menjelma menjadi mutual. Di catatan, kamu berupa kata. Di web-web internet, kamu berupa frasa penyangkalan. Di kehidupan nyata, tiadanya kamu menyamar menjadi barang di orang lain. Ia memakai topi yang sama percis sepertimu, sepatu NB yang sama sepertimu, bahkan rokok yang kau suka. Buku-buku yang suka kau baca dan playlist yang sering kau dengar, mungkin orang lain juga bisa sama sepertimu, atau kamu yang menyamar menjadi orang lain? Ketika kau menyamar sebagai elemen mati, kau menjelma menjadi kedai thrifting, didalamnya ada jaket-jaket serta sweater yang nyaman di badanmu. Selain itu, kau menjelma menjadi secangkir americano, satu cup es kopi susu, atau satu gelas coklat dingin di warmindo. Bahkan, kamu bisa menjelma menjadi gantungan dari kumpulan kunci-kunci ko...