Tubuh yang pesakitan ini masih saja mengingatmu: 4 Puisi Favorit Yasminsea dalam Buku “Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” Adimas Immanuel
“Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” merupakan salah satu buku kumpulan puisi karya Adimas Immanuel yang diterbitkan pertamakali tahun 2019. Buku ini terdiri dari 71 puisi yang ditulis oleh beliau. Terdapat empat puisi favorit saya dari buku “Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali” karena merasa relate with my life dari larik-lariknya yang semu romantic. Maka dari itu, sebagian puisi dalam buku ini berisi tentang bagaimana rasa cinta diungkapkan dan rasa sebuah kehilangan.
Selamat
membaca!
1. Dalam
Demam
Ini bukan sajak
sehat, tak ada aroma kesembuhan
hanya ingus, hanya
cinta yang diberangus influenza.
Tak ada yang
secakap gigil tubuh dalam menyalin
larik -larik
kelemahan ke dalam seuntai stanza.
Beberapa butir pil
berjatuhan seperti penyesalan
atas tindakan-tindakan
kerdil, perih parah igauan.
Dalam gentar
sekujur badan, kening di jamah cemas
ranjang yang tuli,
ajal seperti buru-buru berkemas.
Tubuh yang
pesakitan ini masih saja mengingatmu
masih saja senang
berfoya-foya dengan kehilangan.
2.
Melacak Tubuhmu
Kepadamu pernah kualamatkan
diriku, meski
sesungguhnya aku tak
tahu di mana kotamu,
di jalan mana kau
tinggal, bagaimana bentuk
rumahmu, prangko
gambar apa yang menarik
perhatianmu, dan sebagainya,
dan sebagainya.
Aku juga tak tahu
ada berapa banyak jalan
ke kanan dan kiri,
berapa jumlah gang ataupun
jalan raya yang
bentangkan nyeri. Tetapi aku
mengingat bahwa
tahun-tahun penantian sudah
memberi patok-patok
dalam setiap langkahku,
seperti sebuah
bisikan bahwa aku pun bisa
mendengar detak
jantung perdu, keyakinanku
juga
seperti itu, ia menggantung di awan biru
yang
setia memayungimu karena sadar belum
mampu
menjangkaumu.
Kepadamu
pernah kualamatkan diriku, meski
aku tak
tahu jalan mencapaimu, sebab aku
yakin
dalam tubuhku telah tergambar sebuah
peta
di mana kau adalah utara.
3.
Jika Kita Lahir dan Tumbuh Sebagai Kata-Kata
Jika
kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
saya
ingin bertemu kamu di kalimat yang
tak
pernah memuat tanda seru dan berpisah
di
jalan yang ujungnya tak memuat tanda titik.
Saya
ingin bercinta dengan kamu kapan saja
Di
mana saja tanpa dipisahkan koma dan jeda
Jika
kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
saya
akan selalu menggarisbawahi kamu
seperti
kata yang saya anggap penting,
meski
kamu nanti mencetak miring saya
seperti
kata yang tak dikenal dan asing.
Jika
kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
tanda
tanya akan tetap menjadi ular beludak
yang
menghasut kita untuk makan buah-kata,
pada
akhirnya kita telanjang-kata dan sadar;
Kita
tak lahir dan tumbuh sebagai kata-kata
yang
berbungkus mewah diksi dan rima,
kita
hanya sepasang kekasih telanjang-makna
kang
saling cinta dan mencintai kata-kata
4. Wajah Kota
Wajah kota ini memang
sudah banyak berubah
tapi di tiap
sudutnya masih ada kelebat wajahmu.
Jalanan kota ini
banyak yang diperbaiki,
tapi ingatanku
tetap menemu geronjal jika
melewati ruteku
mengantarmu pulang dahulu
Gedung boleh dibangun
demikian tinggi
setiap rumah boleh
diberi batas dan dipagari,
Tapi tak ada yang
bisa menahanku datangi
selaga di tengah kemarau
kota: matamu.
Sebab aku angin
desa yang jarang kaurasai
kau bisa mulai memejam dan menghirupku
Referensi:
Immanuel, Adimas. 2019. Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama

Komentar
Posting Komentar