Kumpulan Puisi “Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api” Karya Moon Changgil MENELISIK LUKA DARI TUBUH KOREA - yasminsea
Bayangan panjang ilalang yang menegakkan tulang punggungnya
ke arah matahari yang muncul seperti
harapan bergoyang lalu
berbaring sementara rerumputan
mengangkat kepalanya dengan
gelisah dan air sungai pun menyimpan
duka di hati terdalam (hlm. 53)
Sebait
sajak tersebut merupakan kutipan dari salah satu puisi yang berjudul “Kepada
Dia” dari buku kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api
karya Moon Changgil terjemahan Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah. Dari
sebait puisi diatas mungkin pembaca sudah dapat merasakan harapan yang
menyakitkan? Apabila belum terasa, dalam kesempatan ini saya akan menelisik
lebih lanjut tentang salah satu karya sastra korea kumpulan puisi Apa yang
Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil terjemahan Kim Young Soo dan
Nenden Lilis Aisyah.
Sebelum menganalisis karyanya, baiknya terlebih dahulu kita berkenalan dengan penulis dan penerjemahnya. Penulis dari buku ini adalah Moon Changgil, seorang sastrawan berkebangsaan Korea. Ia lahir di Gimje, provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan. Moon Changgil memulai partisipasi dalam dunia sastra dengan penulisan puisi pada kumpulan Puisi Dure (Duresi Dongin) pada tahun 1984, sehingga ia dikategorikan sebagai penyair tahun 80an. Pada tahun 1984 pula Moon bergabung dalam Komunitas Sastra Buruh Guro dan bergabung juga di Bagian Sastra Persatuan Pemuda Perusahaan Demokratisasi. Saat ini, Moon memimpin sejumlah media dan aktif fi organisasi sastra di Korea. Moon memimpin kelompok Changjak21 dan mengelola majalah sastra Changjak21. Selain itu, ia juga bergabung dalam Konferensi Pengarang Korea, Perhimpunan Penyair Korea, Persatuan Pengarang Bangsa Korea, Lembaga Riset Kesusastraan Bangsa, Perhimpunan Pengarang Goyang, dan Solidaritas Sosial Masyarakat Demokrasi Goyang.
Setelah mengenal penulisnya, lanjut berkenalan dengan penerjemahnya yang sudah menerjemahkan karya Moon Changgil ini ke bahasa Indonesia. Penerjemah kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api ada dua orang, Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah. Kim Young Soo lahir di kota Seoul, Korea Selatan. Ia menuntaskan studi S1, S2, dan S3 nya di HUFS (Hankuk University of Foreign Studeies). Kim Young Soo menulis sejumlah karya diantaranya adalah A Monk of Shilla’s Kingdom Korea to Sriwijaya Kingdom dan Indonesian Language Practice. Saat ini Kim Young Soo menjadi anggota Chanjak21.
Penerjemah kedua dari kumpulan puisi
Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api ini yaitu Nenden Lilis Aisyah. Nenden
Lilis Aisyah lahir di Garut, Jawa Barat. Ia merupakan seorang penulis sastra
dari mulai cerpen, sajak, esai, puisi, yang dimuat di berbagai media massa
nasional dan internasional, banyak juga karyanya yang sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris, Jerman, dll. Karya-karyanya pun mendapat penghargaan
seperti Penghargaan Pusat Bahasa 2005 untuk kumpulan cerpennya Ruang
Belakang (Kompas). Nenden Lilis Aisyah juga kerap diundang ke dalam
berbagai event sastra untuk membacakan karyanya sekaligus menjadi pembicaranya.
Nenden Lilis juga menerjemahkan karya sastra mancanegara, antara lain Antologi
Puisi dan Prosa Langit, Angin, Bintang, dan Puisi karya penyair Korea Yun
Dong Ju. Saat ini, Nenden Lilis Aisyah menjadi dosen di Universitas Pendidikan
Indonesia Bandung.
Kumpulan puisi Apa yang
Diharapkan Rel Kereta Api terdiri dari 116 halaman dengan jumlah puisi
sebanyak 58 puisi. Di dalamnya terdapat empat bagian yang dilabeli dengan kata
“rangkuman”. Setiap bagian rangkuman ini memiliki dominan tema yang
berbeda-beda di setiap bagiannya.
Pada rangkuman 1 terdapat 14 puisi
yang ditulis oleh penulis. 14 puisi tersebut diantaranya berjudul: “Penduduk di
Samyang-dong”, “Anak Perempuan yang Cerah”, “Di Dermaga Bangojin”, “Wanita dari
Ahnyang”, “Pemandangan Gedung Koperasi Kredit”, “Malja di Singok-ri”, “Ayahku”,
“Abang K di Pabrik Elektronik”, “Tuan Hwang di Todang-ri 1”, “Tuan Hwang di
Todang-ri 2”, “Tuan Hwang di Todang-ri 3”, “Rasa Cinta Tuan Kim”, “Rumput Liar
di Atas Aspal”, dan “Tuan Ju, Penduduk Daerah Khusus”. Pada bagian
rangkuman 1, pembaca akan disambut dengan puisi-puisi yang bertemakan nasib
para pekerja kecil, seperti buruh bangunan, petani, nelayan, pekerja kasar
harian, dan lain-lain. Penyair menggambarkan kondisi dan situasi dari
masyarakat kecil yang memprihatinkan dalam menjalani kehidupan yang suram. Dalam
puisinya, pengarang memberi nama aku lirik/objek lirik dengan nama tokoh
seperti Tuan Hwang, Tuan Kim, Bapak Gibyong, dan lain-lain untuk memperkuat
makna dan menambah perasaan dari isi puisi-puisinya. Penggambaran masyarakat
yang bekerja sebagai nelayan dapat dilihat pada puisi yang berjudul “Di Dermaga
Bangojin dan Wanita dari Ahnyang”. Puisi tentang kaum petani digambarkan dalam
puisi “Malja di Singok-ri”. Puisi-puisi yang lainnya merupakan gambaran
dari masyarakat yang berprofesi sebagai buruh. Selain menggambarakan kondisi
dan nasib para pekerja, pengarang juga menggambarkan para tokoh dalam puisinya
untuk pantang menyerah dalam mengapai harapan yang baik.
Rangkuman 2 terdapat 15 puisi diantaranya
berjudul: “Di Stasiun Woljeong-ri”, “Kembang Unifikasi”, “Masa Perlawanan”, “Kita
adalah Satu”, “Gadis Geumchon 1”, “Gadis Geumchon 2”, “Oh, Hari Itu”, “Kepada
Sungai Han”, “Fajar untuk Genting Biru”, “Di Maehyang-ri”, “Buku Catatan Putih”,
“Sungai”, “Anak yang Digendong di Moodeung”, “Catatan Harian Pedesaan”, dan “Kepada
Dia”. Dalam puisi-puisi di ‘Rangkuman 2’ pengarang mengemukakan respon mengenai
perang Korea; menggambarkan kepedihan bangsa Korea mengenai pemisahan Korea
sekaligus kerinduan penyatuan dua Korea (Unifikasi). Suasana ini tergambar
dalam puisi “Di Stasiun Wojeong-ri”, “Kembang Unifikasi”, dan “Kita adalah Satu”
yang bentuk puisinya cenderung naratif. Selain tentang perasaan rakyat
mengenai unifikasi, pada Rangkuman 2 ini pun terdapat puisi yang menggambarkan kekejaman
militer AS di Korea Selatan. Kekejaman ini digambarkan dalam puisi yang
berjudul “Gadis Geumchon 1”, “Gadis Geumchon 2”, dan “Oh, Hari Itu”.
Pada ‘Rangkuman 3’ dan ‘Rangkuman 4’
puisi didalamnya dominan bertema sosial politik. Dalam ‘Rangkuman 3’ terdapat
15 judul puisi, diantaranya adalah: “Menyusuri Jalan Gunung”, “Duet Musim
Dingin”, “Bunga Mawar Hitam”, “Tempat Duduk Penonton”, “Lampu jalan”, “Dermaga
Nodeul”, “Bayangan”, “Dalam Gelap”, “Serangga Rerumputan”, “Benteng”, “Sembari
Menulis Sebuah Puisi”, “Aku dalam Cermin”, “Tarian Angin”, “Di Hagung-ri”, “Tempat
Tinggalku Dulu 1”, “Di Hagung-ri”, “Tempat Tinggalku Dulu 2”. Pada ‘Rangkuman 3’, puisi-puisinya lebih
menggambarkan perasaan aku lirik secara individu baik itu menyangkut religi,
cinta, norma hidup, alam, dan lain-lain. Pengarang menyajikan tema tersebut
dala bentuk puisi lirik yang didominasi dengan suasana imajis.
Pada ‘Rangkuman 4’ terdapat 14 judul
puisi, diantaranya adalah: “Stasiun Seojung-ri”, “Angin”, “Memikirkan Ibu”, “Bon-dong
Texas Seoul”, “Rumah di Gang Kecil Musim Dingin”, “Hwang, Dewi Pengampun Buddha
1”, “Hwang, Dewi Pengampun Buddha 2”, “Hwang, Dewi Pengampun Buddha 3”, “Bunga
Azalea, pada April Itu”, “Lampu Redup Itu atau Harapan”, “Bunga Terompet 1”, “Bunga
Terompet 2”, “Setelah Perjalanan pada Musim Peralihan”, “Bungkus Es Krim dan
Tuan Hwang”. Puisi yang terdapat dalam
‘Rangkuman 4’ lebih menggambarkan aku lirik/objek lirik untuk senantiasa
bangkit dari keterpurukan dan pantang menyerah dalm mencapai suatu kemauan atau
harapan.
Harapan
yang bersungguh-sungguh datang
Setelah
membuka dada sejenak
Untuk
diisi dengan minuman keras botolan yang tersisa
Darah
merah mengucur di sela-sela dedaunan (hlm.
78)
Larik
tersebut merupakan salah satu kutipan puisi yang berjudul “Memikirkan Ibu” pada
‘Rangkuman 4’. Dapat terlihat secara tidak langsung kutipan tersebut
menyiratkan bahwa terdapat harapan yang memang akan segera datang, namun diri
sendiri sudah berusaha untuk bertahan sampai darah mengucur ke dedaunan.
Buku puisi Apa yang Diharapkan
Rel Kereta Api karya Moon Changgil memberikan informasi mengenai sisi kelamnya
Korea dari panggung populer di zaman sekarang. Melalui terjemahannya kedalam
Bahasa Indonesia, khususnya pembaca dari Indonesia mendapatkan informasi
mengenai kisah dan tragedi yang terjadi di Korea dalam bentuk Puisi. Pemikiran
pembaca menjadi lebih terbuka bahwa budaya Korea yang begitu fenomenal dan
selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik tersebut menyimpan sisi kelam
didalamnya. Masyarakat kecil di Korea juga harus bekerja keras dan tidak putus
asa dalam menggapan harapan.
Secara keseluruhan, buku ini sangat rekomendasi untuk dibaca. Termasuk kalangan yang menyukai budaya Korea agar bisa merasakan sisi kelamnya dalam bentuk karya sastra puisi. Terjemahan yang dihasilkan oleh Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah pun mudah dimengerti, dari penyunan kata-katanya sampai menjadi puisi utuh tanpa mengurangi makna sebenarnya. Efek imajinasi dan pencitraan yang terdapat di dalam puisi cukup tinggi, sehingga ketika kita membaca puisinya seakan-akan sedang berada di situasi dan kondisi yang sama. Melalui buku ini, pembaca akan mengetahui sejarah Korea lewat karya sastra dan memiliki pandangan baru mengenai jatuh bangun kehidupan yang muram. (Yasminsea)
Referensi:
Changgil,
Moon. 2021. Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia

Komentar
Posting Komentar