Di
tengah jalanan yang kacau, orang-orang berlalu lalang mencari apa yang dicari. Di
tepiannya, terkadang kosong menggerogoti jiwa-jiwa nya. Aku sedang berada
diantaranya. Ingin berlari tapi masih belum cukup energi, terus berjalan tapi
takut tersaing sendiri. Langkahku belum stabil, banyak berhentinya.
Sampai
ketika aku membereskan suatu memoar, aku juga ingin menata pikiranku menjadi so
dewasa. Dimana semesta menuntut untuk menerima apa adanya karena sesuatu
yang ada apanya. Dikira dunia ini tinggal menekan tombol “ikhlas” kali yak,
lalu terus melanjutkan hidup dengan mode move on. Ditambah lagi mendengar
celotehan orang - “merasa paling tersakiti banget sih”. Padahal semua orang sudah
pasti pernah merasa tersakiti juga, apapun bentuknya.
Memoar
itu penuh di kamar tidurku. Layaknya debu, setiap hari harus ku sapu, namun
sebersih apapun itu, ia tidak akan pernah benar-benar bersih. (Jika ingin tahu tentang kamar tidurku, kau bisa baca
senandikaku sebelumnya). Sekecil-kecilnya debu, ia akan tetap ada. Ya
begitulah sosok yang kemarin pamit, menjelma debu yang enggan bersih di
kepalaku. Meminta aku untuk meminum obat perontok bayangannya lebih sering. Dampaknya
tentu tidak langsung, benar membutuhkan waktu dengan jangka yang lama mungkin. Rambut-rambut
rontok, bantal-bantal bau air mata, foto polaroid yang menguning, sudah menjadi
efek samping obat tersebut.
Huftt,
aku tidak bisa berpura-pura kalau sampai aku tidak suka Baskara Hindia, karena
itu salah satu penyanyi favoritnya dia. Salah satu lirik lagunya merepresentasi
scene hidup ini:
Rute pagi yang dahulu ceria, menu favorit
kini hambar rasanya
Foto yang tak berani dilirik mata,
kontak sekarang jadi sebatas nama
Masing-masing selamat dan bercerita
Namun tidak lagi, miliki bersama
Sebuah
bait lirik bagi para penjilat air mata memang; aku. Salah satu temanku menyuruhku
dengan nada jengkel “Sudahlah, buang tuh foto mantanmu yang ada di dompetmu itu.
Lepasin juga foto dia yang kau selipin di belakang pigura kamarmu, Yas!!” Dari ucapannya,
tergambar sekali bahwa aku bodoh sekali.
OKE..OKE..OKE..
Aku sudah mengarsipkan hal-hal yang mengandung dirinya di kamar tidurku okey.
Minimal aku sudah tidak lagi melihat jelmaan dia di kamarku. Merasa sedikit lebih
tenang setidaknya. Aku berbaring di kasurku. Selintas aku termenung. Jika muncul
notifikasi bahwa dia sudah dengan yang lain – pacaran, aku masih bisa terima. Tapi
jika aku mendengar kabar bahwa dia menikah, setidaknya aku ingin dilamar dulu
oleh jodohku. Aku belum bisa membayangkan, lajangku mendengar kabar dia
menikah. Sampai sini saja, aku tidak bisa membayangkan perasaanku nanti.
“Tapi jika aku
mendengar kabar bahwa dia menikah, setidaknya aku ingin dilamar dulu oleh
jodohku.”
Sialan, kalimat itu seakan menjadi
bumerang. Bagaimana kalau takdirnya, beberapa bulan kedepan aku ada yang melamar?
Who knows kannn? Dan pikiran bangsatku berkata: “Jika aku ada yang
melamar, apa itu tandanya sebentar lagi dia (mantanku) akan menikah? 😭😭.
Pemikiran yang brengse* bukan? Menjadikan suatu momen yang seharusnya bahagia
untuk diri sendiri malah menjadi patokan tidak pasti bagi masa lalu. Dasar bodoh
sekali. Maka dari itu, aku ingin selekasnya aku ikhlas, agar aku bisa menikmati
rasa bahagiaku lagi dengan orang baru lebih dari bahagia saat aku bertemu
dengan dirinya di Malang.
Satu hal tentang orang baru, dengan
pengaruh dari novel-novel yang sudah kubaca. Aku pernah membaca novel judulnya
23:59 karya Brian Khrisna. Salah satu tokohnya bernama Aransyah. Dia adalah calon
suami dari Ami. Aransyah adalah sosok pria yang rendah hati sekali, berlapang
dada, sangat legowo jadi karakter; disamping itu dia pria yang mapan dan
tampan. Lebih perfect dari Raga, mantannya Ami di novel itu. Aransyah senantiasa membantu Ami move on dari Raga, mendengarkan cerita dan kesah Ami ketika
dengan Raga, layaknya orang baru yang ngebadut aja. Sayangnya, sampai hari H Aransyah dan Ami bertunangan, Ami masih mengingat mantannya, karena hal yang belum
selesai.
Terkadang muncul rasa takut, ketika
aku menerima orang baru dan aku tidak terlalu membuka hati untuk orang tersebut,
hanya karena luka orang lama. Sementara, orang tersebut sudah jelas lebih baik
dari orang lama. Jika sudah begini, apa yang harus aku lakukan? “Biarlah waktu
yang menyembuhkan” sudah menjadi template tidak berguna.
Terkadang
beberapa pertanyaan yang muncul di kehidupan tidak membutuhkan jawaban, tapi
keikhlasan.
Salam kacau,
Yasminsea
Komentar
Posting Komentar